Semarang – Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang resmi memulai rangkaian Visitasi Lapangan ACQUIN (Accreditation, Certification and Quality Assurance Institute) sebagai bagian dari proses akreditasi internasional pada Senin-Selasa (14-15/07/2026). Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam upaya Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris memperoleh pengakuan mutu di tingkat internasional sekaligus memperkuat komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan yang berkelanjutan.
Visitasi lapangan dipimpin oleh Prof. Dr. Bas Aarts dari University College London (UCL), United Kingdom, yang bertindak sebagai asesor ACQUIN. Berbeda dengan visitasi konvensional, seluruh rangkaian asesmen dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, sehingga memungkinkan proses evaluasi berlangsung secara efektif dengan tetap memenuhi standar dan prosedur yang ditetapkan oleh ACQUIN.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh pimpinan universitas, pimpinan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Unit Penjaminan Mutu, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta alumni. Meskipun dilaksanakan secara virtual, seluruh peserta mengikuti agenda visitasi secara aktif, mulai dari presentasi program studi, verifikasi dokumen, hingga sesi wawancara bersama berbagai pemangku kepentingan.
Selama visitasi berlangsung, Prof. Dr. Bas Aarts melakukan verifikasi terhadap dokumen akreditasi sekaligus menelaah implementasi sistem penjaminan mutu, tata kelola program studi, proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai bentuk kerja sama internasional yang telah dikembangkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag menyampaikan bahwa akreditasi internasional merupakan salah satu langkah strategis fakultas dalam meningkatkan daya saing institusi di tingkat global. Menurutnya, proses ini tidak hanya bertujuan memperoleh pengakuan internasional, tetapi juga menjadi sarana evaluasi berkelanjutan untuk memastikan seluruh proses akademik berjalan sesuai standar mutu internasional.
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Lulut Widyaningrum, menjelaskan bahwa seluruh sivitas akademika telah melakukan berbagai persiapan secara intensif selama beberapa bulan terakhir. Penyusunan laporan evaluasi diri, pengumpulan dokumen pendukung, hingga koordinasi lintas unit dilakukan secara sistematis agar seluruh aspek penilaian dapat ditunjukkan secara optimal kepada asesor.
“Visitasi lapangan ini merupakan momentum penting bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris untuk menunjukkan komitmen kami dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan. Kami berharap berbagai praktik baik yang telah dikembangkan dapat menjadi bukti nyata bahwa program studi siap memperoleh pengakuan internasional serta terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi mahasiswa,” ujar Lulut Widyaningrum.
Dalam proses visitasi, asesor melakukan wawancara bersama dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang terdiri atas Agus Prayogo, Nuna Mustikawati Dewi, Risky Soffyana, Nur Syafaah, dan Awwalia Fitrotin Izza. Diskusi difokuskan pada implementasi tridarma perguruan tinggi, pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), inovasi pembelajaran, produktivitas penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta strategi internasionalisasi yang dijalankan oleh program studi.
Asesor juga berdialog secara langsung dengan perwakilan mahasiswa, yaitu Fat Maulana, Mikyal Kholifah Khaerina, dan Firyal Raniah Rizka Azzahro, untuk memperoleh gambaran mengenai pengalaman belajar, kualitas layanan akademik, keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik, serta dukungan program studi terhadap pengembangan kompetensi mahasiswa
Selain mahasiswa, sesi khusus bersama alumni turut menjadi bagian penting dalam proses asesmen. Pada kesempatan tersebut, Ahmad Lizamudin dan Kaffah Visa Alvionita hadir mewakili alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris untuk berbagi pengalaman mengenai relevansi kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan, kontribusi kurikulum terhadap dunia kerja, serta hubungan yang terus terjalin antara alumni dengan program studi. Masukan dari alumni menjadi salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan program studi dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan.
Pelaksanaan visitasi secara daring melalui Zoom Meeting tidak mengurangi substansi proses asesmen. Tim asesor tetap melakukan verifikasi secara menyeluruh terhadap dokumen pendukung, melakukan klarifikasi kepada setiap kelompok pemangku kepentingan, serta mengevaluasi implementasi sistem penjaminan mutu berdasarkan bukti-bukti yang disampaikan selama proses visitasi. Dan melakukan penilaian terhadap fasilitas yang ada, dengan dipandu sebagai videografer Aulia Rahmawati Ramadhanti dan Muhammad Fathan Najiha.
Akreditasi internasional ACQUIN menilai berbagai aspek penting, meliputi tata kelola kelembagaan, kualitas pembelajaran, kompetensi lulusan, sistem penjaminan mutu internal, internasionalisasi, serta keberlanjutan pengembangan program studi. Oleh karena itu, visitasi lapangan menjadi tahapan krusial untuk memastikan kesesuaian antara dokumen evaluasi diri dengan implementasi nyata di lingkungan program studi.
Melalui pelaksanaan visitasi ini, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UIN Walisongo berharap dapat memperoleh pengakuan internasional yang semakin memperkuat reputasi institusi sebagai penyelenggara pendidikan tinggi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global. Pengakuan tersebut diharapkan mampu memperluas jejaring kerja sama internasional, meningkatkan kualitas lulusan, serta mendukung visi UIN Walisongo menjadi universitas riset bereputasi internasional.
Rangkaian visitasi ACQUIN yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting berjalan dengan lancar dan mendapat dukungan penuh dari seluruh sivitas akademika. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris optimistis bahwa proses ini akan menjadi langkah strategis dalam memperkuat budaya mutu serta meningkatkan daya saing di tingkat internasional.

